MAKASSAR– Harieduabelas Pesantren Ramadhan Virtual UMI membahas “Konsep Sains dalam Al-Qur’an” dengan narasumber Dr.Ir.H.Mokhtar Tahir Syarkawi, M.T (Dekan Fakultas Teknik UMI). Hadir Wakil Dekan FAI UMI Dr. Akhmad Syahid, M.Pd, Wakil Dekan IV FT Dr.Nursetiaway, Ph.D, Kabid-Kabid dan KTU UPT PKD UMI, sejumlah dosen, karyawan dan mahasiswa UMI.
Dr.Mukhtar Tahir menjelaskan al-Qur’an, adalah sumber ilmu pengetahuan. Banyak keajaiban didalam al-Qur’an, misalnya tentang penciptaan alam semesta. Dari sisi ilmu sains keteknikan, sering bertanya bagaimana penciptaan langit yang luas tanpa tiang, dibandingkan jika ingin membangun jembatan sepanjang 500 meter, sungguh banyak keilmuan keteknikan yang dibutuhkan. Demikian pula, di atas ketinggian pesawat tertentu, ada rasa sesak yang dirasakan di dada seorang pilot, seakan ia mendaki langit. Hal ini telah disinggung Allah Swt di dalam Al-Qur’an Surah Al-An’am ayat 125. Selanjutnya kulit manusia yang terbakar, hanya dirasakan di kulit luar, sebagaimana dijelaskan di dalam Q.S An Nisa ayat 56. Demikian pula rotasi perputaraan bulan dan matahari beredar pada garis edarnya, dijelaskan dengan gamblang di dalam Q.S Al- Maidah ayat 33. Bumi diciptakan dalam 7 lapis dijelaskan di dalam Q.S Surat at Thalaq ayat 12, dan banyak lagi ayat Al-Qur’an tentang sains dan teknologi.
Dr.Akhmad Syahid menambahkan dari ayat-ayat al-Qur’an tentang sains, misalnya dalam pembuatan penampungan air (Dam) terinspirasi dari ayat al-Qur’an yang menjelaskan turunnya hujan. Demikian pula kisah para Nabi, dapat ditemukan pengembangan manajemen Sumber Daya Manusia, misalnya kisah Nabi Yusuf a.s yang dibuang oleh saudara-saudaranya menunjukkan adanya manajemen SDM yang dapat diambil pelajaran. Demikian pula kisah Nabi Ibrahim a.s yang menyaksikan patung-patung buatan ayahnya yang kemudian disembah kaumnya memberikan pelajaran manajemen SDM, sebutnya.
Host Dr.M.Ishaq Shamad menambahkan Kisah Nabi Ibrahim as. yang dibakar tapi tidak kepanasan, juga menginspirasi ilmuan untuk menemukan baju anti panas bagi petugas pemadam kebakaran. Ini semua menunjukkan bahwa al-Qur’an, adalah mukjizat Nabi Muhamamd Saw yang berlaku, bukan hanya pada masa Nabi Muhammad Saw, tetapi juga berlaku di sepanjang zaman. Oleh karena itu, ada pergeseran makna “ulama” saat ini, bukan hanya orang yang ahli agama, tetapi para ilmuan/ahli di bidangnya-pun bisa dikategorikan sebagai ulama, asalkan mereka mampu “menyaksikan” kebesaran Allah Swt dalam keilmuannya, jelasnya.
Host Dr.Nurjannah Abna menutup dengan mengemukakan pentingnya mempelajari dan mentadabburi al-Qur’an, kemudian mengaitkan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, dan sains, sehingga ditemukan inspirasi kandungan al-Qur’an tentang pengembangan sains dan teknologi untuk kemaslahatan manusia, kuncinya.
