Manggarai Barat– Praktik kotor penjarahan BBM bersubsidi kembali dipertontonkan secara vulgar di Kabupaten Manggarai dan Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Sebuah mobil pikap putih tertangkap membawa jeriken-jeriken berisi BBM subsidi, seolah negeri ini tak punya hukum dan aparat hanya jadi penonton.
Ironisnya, pengambilan BBM dalam jumlah besar menggunakan jeriken itu dilakukan di SPBU resmi, di ruang terbuka, dan di siang bolong. Publik bertanya-tanya, siapa sebenarnya yang bermain di belakang layar hingga aksi semacam ini berjalan lancar tanpa hambatan?
Ketua Komite Pusat Gerakan Revolusi Demokratik (KP-GRD), Jimi Saputra, tak tinggal diam. Ia menilai praktik mafia BBM di wilayah Manggarai dan Manggarai Barat bukan sekadar pelanggaran, tetapi bentuk pembiaran yang memalukan oleh aparat penegak hukum.
Menurut Jimi, satu bulan terakhir masyarakat kesulitan mendapatkan Pertalite di berbagai SPBU. Sementara itu, jeriken-jeriken milik mafia terus terisi tanpa gangguan. Aparat kepolisian setempat pun dinilai tak pernah serius menyelidiki persoalan ini, seolah buta dan tuli terhadap jeritan publik.
“Bulan lalu kami mendapati aktivitas mafia BBM subsidi di Manggarai. Hari ini, Sabtu (04/10), praktik serupa kami temukan lagi di Manggarai Barat. Mereka bergerak bebas seakan negara tidak hadir,” ujarnya kepada Corong Demokrasi.
Ia mengungkapkan, para pelaku bahkan menggunakan operator SPBU untuk memindahkan BBM bersubsidi ke jeriken lalu mengangkutnya dengan mobil pikap. Jika praktik semacam ini tak bisa dihentikan, lalu untuk apa keberadaan aparat di sana?
Jimi kemudian mendesak Kapolri Listyo Sigit Prabowo turun tangan langsung. Ia meminta evaluasi total terhadap jajaran Polda NTT dan memecat Kapolres Manggarai serta Kapolres Manggarai Barat yang dianggap gagal mengawasi wilayahnya.
Menurutnya, dugaan mafia BBM ini bukan baru terjadi kemarin. Praktik tersebut sudah berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun dibiarkan, tanpa tindakan tegas dari aparat yang seharusnya menjaga distribusi energi untuk rakyat kecil.
“Kami minta Kapolri segera mengevaluasi kasus ini secara terbuka. Masyarakat dipaksa antre dan kehabisan BBM, sementara mafia berpesta di SPBU,” tegasnya.
Ia menutup pernyataannya dengan kritik keras: “Jika Kapolres dan aparat di lapangan tak mampu menindak para pelaku, pecat saja. Jangan biarkan rakyat terus menjadi korban karena permainan kotor segelintir orang yang dilindungi diam-diam.”

