Close Menu
Indotim NewsIndotim News
  • Berita
  • DAERAH
  • HUKRIM
  • EKOBIS
  • BIDIK LENZA
  • NASIONAL
  • PENDIDIKAN
  • ADVERTORIAL
  • SOSBUD
Facebook X (Twitter) Instagram
Facebook X (Twitter) Instagram
Minggu, Mei 17
Indotim NewsIndotim News
Facebook X (Twitter) Instagram
  • Berita
  • DAERAH
  • HUKRIM
  • EKOBIS
  • BIDIK LENZA
  • NASIONAL
  • PENDIDIKAN
  • ADVERTORIAL
  • SOSBUD
Indotim NewsIndotim News
  • Berita
  • DAERAH
  • HUKRIM
  • EKOBIS
  • BIDIK LENZA
  • NASIONAL
  • PENDIDIKAN
  • ADVERTORIAL
  • SOSBUD
Home»RAGAM»OPINI»KOLOM: Dolar Naik, Desa Tetap Terdampak. Kritik Logika Simbolik!
OPINI

KOLOM: Dolar Naik, Desa Tetap Terdampak. Kritik Logika Simbolik!

Indotim NewsBy Indotim NewsMei 17, 2026Tidak ada komentar2 Mins Read
Facebook Twitter Email WhatsApp Telegram
Share
Facebook Twitter Email WhatsApp

Oleh: Zulkifli Malik

INDOTIMNEWS– Pernyataan Presiden Prabowo yang viral dan  menjadi sorotan publik,  bahwa warga desa tidak terdampak karena “tidak pakai dolar” adalah pandangan yang terlalu menyederhanakan realitas ekonomi.

Secara formal, warga desa memang tidak bertransaksi dengan dolar, tetapi secara substansi mereka tetap menanggung konsekuensi dari pelemahan rupiah melalui harga barang, ongkos produksi, dan biaya hidup yang terus naik.

Kritik ini penting karena ekonomi desa tidak berdiri sendiri. Desa terhubung langsung dengan pasar nasional dan global melalui pupuk, BBM, pakan ternak, benih, obat pertanian, alat produksi, dan barang konsumsi sehari-hari.

Toh, ketika dolar menguat dan rupiah melemah, biaya impor naik, lalu beban itu diteruskan ke harga barang yang dibeli masyarakat desa.

Artinya, yang terdampak bukan sekadar pelaku pasar besar di kota, tetapi juga petani kecil, pedagang pasar, buruh tani, nelayan, dan keluarga miskin di desa.

Mereka mungkin tidak memegang dolar, tetapi mereka membayar harga akhir yang sudah dipengaruhi kurs. Di titik inilah pernyataan Presiden Prabowo menjadi problematis, karena mengabaikan rantai penularan harga dari pusat ekonomi ke pinggiran.

Data inflasi membuktikan bahwa tekanan harga bukan sekadar kekhawatiran teoritis. BPS mencatat inflasi April 2026 sebesar 0,13 persen secara bulanan dan 2,40 persen secara tahunan, yang menunjukkan bahwa harga barang masih bergerak naik meskipun diklaim terkendali.

Bagi rumah tangga desa yang pendapatannya terbatas, kenaikan kecil pada bahan pokok, transportasi, dan kebutuhan produksi sudah cukup untuk menekan daya beli.

Lebih jauh, desa justru cenderung lebih rentan terhadap gejolak kurs karena struktur ekonominya rapuh. Petani dan pelaku UMKM desa sulit menaikkan harga jual setara dengan kenaikan biaya input, sementara akses terhadap perlindungan harga dan pembiayaan sering tidak memadai.

Akibatnya, setiap pelemahan rupiah langsung memukul margin keuntungan dan mempersempit ruang hidup masyarakat desa.

Pernyataan Presiden Prabowo seharusnya tidak berhenti pada logika simbolik bahwa desa tidak memakai dolar. Dalam ekonomi modern, dampak dolar tidak diukur dari siapa yang memegang mata uang asing, melainkan dari siapa yang menanggung harga akhir.

Dan realitanya justru rakyat kecil di desa yang paling cepat merasakan dampaknya dalam bentuk mahalnya pangan, mahalnya produksi, dan makin sempitnya daya beli.

Jika pemerintah ingin jujur terhadap realitas, maka yang perlu dilakukan bukan membantah dampak rupiah melemah, melainkan melindungi rakyat dari efeknya. Itu berarti menjaga stabilitas harga pangan, menekan biaya distribusi, memperkuat subsidi yang tepat sasaran, dan memastikan input produksi desa tidak makin mahal.

Tanpa langkah semacam itu, pernyataan bahwa desa tidak terdampak dolar hanya akan terdengar sebagai retorika yang jauh dari kehidupan nyata rakyat. (*)

SLIDER
Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp Email
Indotim News
  • Website

Related Posts

Pembacokan Sadis Anak 14 Tahun  oleh Geng Motor  di Jl.Abubakar Lambogo, Kapolrestabes Makassar: Penyerangan Direncanakan

Mei 13, 2026

Tebas Punggung Anak di Jalan Abubakar Lambogo, 5 Terduga Pelaku Diciduk Polisi

Mei 12, 2026

Kombes Pol Setiadi Serahkan Jabatan Dirreskrimum Polda Sulsel

Mei 11, 2026
Leave A Reply Cancel Reply

  • Berita Terkini
  • Post Popular

KOLOM: Dolar Naik, Desa Tetap Terdampak. Kritik Logika Simbolik!

Mei 17, 2026

Peringati Kenaikan Yesus Kristus, PGIW Sulselra Bawa Pesan Harapan di LPP Sungguminasa

Mei 14, 2026

Kolaborasi lintas sektoral, LPP Sungguminasa Gandeng BBPP Batangkaluku Gowa Laksanakan Pelatihan Budidaya Tanaman Cabai

Mei 13, 2026

Pembacokan Sadis Anak 14 Tahun  oleh Geng Motor  di Jl.Abubakar Lambogo, Kapolrestabes Makassar: Penyerangan Direncanakan

Mei 13, 2026

Pastor Yance Yogi dari Intan Jaya; Uskup Merauke urus umat, bukan sibuk pemekaran wilayah

Mei 29, 2022

DPC Pandawa Pattingalloang Gowa Laksanakan Rapat Persiapan Pelantikan

Agustus 15, 2022

Antara WikiLeaks dan SBY, Siapa Bohong?

Agustus 1, 2014

KOLOM: Dolar Naik, Desa Tetap Terdampak. Kritik Logika Simbolik!

Mei 17, 2026
Berita Terbaru
  • KOLOM: Dolar Naik, Desa Tetap Terdampak. Kritik Logika Simbolik!
  • Peringati Kenaikan Yesus Kristus, PGIW Sulselra Bawa Pesan Harapan di LPP Sungguminasa
  • Kolaborasi lintas sektoral, LPP Sungguminasa Gandeng BBPP Batangkaluku Gowa Laksanakan Pelatihan Budidaya Tanaman Cabai
  • Pembacokan Sadis Anak 14 Tahun  oleh Geng Motor  di Jl.Abubakar Lambogo, Kapolrestabes Makassar: Penyerangan Direncanakan
  • Tebas Punggung Anak di Jalan Abubakar Lambogo, 5 Terduga Pelaku Diciduk Polisi
Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Indeks Berita
© 2026 INDOTIM NEWS | by WebPro.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.