Gowa – Kesehatan merupakan hak mendasar bagi setiap wanita, tanpa terkecuali bagi mereka yang sedang menjalani masa pembinaan. Berkomitmen untuk menyebarkan kepedulian tersebut, Yayasan Kesehatan Kanker Indonesia (YKKI) menggelar kegiatan penyuluhan kanker yang bertempat di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Sungguminasa. Kegiatan ini diikuti dengan antusias oleh para warga binaan yang ingin memperluas pemahaman mengenai proteksi kesehatan diri Senin, (20/7/2026).
Merujuk pada data dan program prioritas Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI), penyakit kanker seperti kanker payudara dan kanker serviks saat ini masih menjadi ancaman utama bagi kaum perempuan. Oleh karena itu, pembekalan materi dalam penyuluhan ini secara khusus difokuskan pada pengenalan gejala-gejala awal serta pentingnya menerapkan gaya hidup CERDIK guna mencegah faktor risiko. Melalui edukasi yang menyeluruh, masyarakat di dalam lapas diharapkan dapat mendeteksi sinyal bahaya pada tubuh secara mandiri karena deteksi dini adalah kunci utama keberhasilan penyembuhan.
Kegiatan positif ini mendapat apresiasi penuh dari Kepala Lapas Perempuan Sungguminasa Yohani Widayati, Kalapas menyampaikan bahwa pemenuhan hak kesehatan melalui edukasi seperti ini sangatlah berharga untuk masa depan para warga binaan sekaligus menjadi bagian nyata dalam mendukung implementasi 13 Program Akselerasi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan di bidang optimalisasi pembinaan.
“Kami sangat berterima kasih dan mengapresiasi kegiatan yang dilaksanakan oleh YKKI. Kegiatan ini bukan sekadar penyuluhan, melainkan sebuah bentuk kepedulian yang memberikan harapan baru bagi warga binaan di sini. Dengan bekal pengetahuan ini, warga binaan kini lebih sadar akan pentingnya menjaga kesehatan dan melakukan deteksi dini secara mandiri, sehingga ketika bebas nanti, mereka kembali ke masyarakat dalam kondisi yang sehat, kuat, dan lebih produktif,” ujarnya.
Melalui sinergi yang kuat antara YKKI dan Lapas Perempuan Sungguminasa, langkah pencegahan penyakit mematikan ini diharapkan dapat berjalan lebih cepat dan efektif. Kegiatan ditutup dengan harapan besar bahwa pemutusan rantai keterlambatan penanganan kanker pada perempuan dapat dimulai dari lingkungan terkecil, demi mewujudkan masa depan generasi wanita Indonesia yang lebih sehat dan berharga. (*)

