MAKASSAR– Aliansi Kesatuan Rakyat Menggugat atau KERAMAT kembali turun ke jalan menggelar aksi unjuk rasa di pertigaan Jalan Alauddin – Pettarani, Kota Makassar, Sabtu (30/8/2025).
Dalam aksinya, massa menyuarakan penolakan terhadap berbagai kebijakan pemerintah yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat.
Sejumlah spanduk dan poster tuntutan dibentangkan, salah satunya bertuliskan “Makassar Bergerak Gulingkan Prabowo-Gibran.”
Gelombang orasi terus bergantian dilakukan. Jenderal lapangan aksi, Oshi, menyebutkan protes yang terjadi hari ini merupakan akumulasi kekecewaan rakyat terhadap kebijakan pemerintahan Prabowo-Gibran.
Menurutnya, di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang semakin sulit, pemerintah justru menaikkan gaji anggota DPR, membeli peralatan militer bekas dari luar negeri, sementara rakyat terus ditekan melalui pajak yang tinggi.
Oshi juga menyinggung rekam jejak Presiden Prabowo yang dinilai memiliki keterlibatan dalam kasus pelanggaran HAM masa lalu, serta mengkritik Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang dianggap tidak menunjukkan kapasitas sebagai pemimpin.
Selain itu, KERAMAT juga menyerukan agar mantan Presiden Joko Widodo bersama kroninya segera diadili.
Mereka menilai pada masa kepemimpinan Jokowi, telah terjadi banyak kasus pelanggaran HAM, perampasan ruang hidup masyarakat, hingga praktik KKN melalui izin usaha pertambangan dan proyek strategis nasional.
Adapun sejumlah organisasi yang tergabung dalam aliansi KERAMAT di antaranya GRD, PMBI, SPMP, GMNI Makassar, GMKI, LMND, PMKRI Gowa, dan KAM.
Dalam aksi ini, mereka membawa isu utama “Makassar Bergerak Gulingkan Prabowo-Gibran” dengan sederet tuntutan, di antaranya:
Pengesahan RUU Perampasan Aset dan UU Masyarakat Adat.
Penolakan kenaikan PBB, RKUHP, RUU Polri, serta proyek strategis nasional.
– Pembubaran DPR RI dan pencabutan UU TNI.
– Pendidikan dan kesehatan gratis untuk rakyat.
– Penghentian represifitas aparat terhadap masyarakat sipil.
– Pengusutan tuntas pelanggaran HAM masa lalu.
– Penolakan utang luar negeri serta gelar pahlawan bagi Soeharto.
Aksi berlangsung dengan penjagaan ketat aparat kepolisian. Massa berjanji akan terus melakukan perlawanan di jalanan hingga tuntutan mereka dipenuhi.

