BONE– Di ujung jalan tanah Desa Carigading, Kabupaten Bone, Sulsel, tampak sebuah gubuk reyot yang nyaris menyatu dengan rerumputan kering di sekelilingnya.
Di sanalah seorang lansia Tassakka yang lebih dikenal warga dengan nama Kamaruddin — menghabiskan hari tuanya sendirian.
Tubuhnya kecil, langkahnya pelan, dan wajahnya membawa jejak waktu dengan garis-garis lelah yang bercerita tentang kehidupan panjang namun sepi.
Warga sekitar sering melihatnya duduk di depan rumah, menatap kosong ke jalan, seperti menunggu sesuatu yang tak kunjung datang.
Kamaruddin bukan sekadar lansia biasa, menurut cerita tetangga, sejak kecil ia hidup tanpa keluarga yang merawat disebut anak yatim piatu oleh mereka yang mengenalnya.
Gubuknya hanya berisi sedikit perabot sederhana, atap bocor saat hujan, dan lantai yang tak rata. Pada sore hari, ketika matahari menurun, bayangan kesendiriannya terasa lebih panjang.
Kondisi rumah dan kesehariannya menggambarkan betapa minimnya akses terhadap kebutuhan dasar yang seharusnya menjadi jaminan bagi warga lanjut usia.
Kepedulian warga Carigading muncul secara spontan namun terbatas. Mereka menaruh makanan atau membantu memperbaiki sedikit bagian rumah ketika mampu.
Namun bantuan itu tak cukup untuk mengatasi masalah struktural dan tidak ada program pendampingan rutin, dukungan kesehatan yang berkelanjutan, maupun perbaikan rumah yang layak.
Warga berharap instansi terkait mau melakukan pendataan dan meninjau kondisi Kamaruddin secara langsung agar dukungan yang diberikan sesuai kebutuhan dan ketentuan berlaku.
Permintaan warga itu sederhana: agar pemerintah desa, kecamatan, dan dinas sosial datang melihat sendiri kondisi lapangan, lalu memasukkan namanya ke program bantuan sosial yang ada baik untuk perbaikan rumah, bantuan pangan, maupun layanan kesehatan.
Di era kebijakan yang menekankan perlindungan sosial, kisah Kamaruddin menjadi pengingat bahwa program yang ada belum tentu menjangkau semua lansia rentan di pelosok.
Tanpa pendataan dan tindak lanjut, sosok-sosok seperti ia bisa terus terlewatkan.
Hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan resmi dari pihak desa maupun petta camat.
Ketidakhadiran respons itu menambah kecemasan warga yang melihat jelas kebutuhan nyata di depan mata.
Mereka berharap bukan hanya janji, melainkan tindakan nyata: kunjungan, verifikasi, dan penyaluran bantuan sesuai prosedur agar Kamaruddin bisa menikmati hari tua dengan lebih aman dan bermartabat.
Kisah Kamaruddin adalah potret kecil dari persoalan besar, bagaimana negara dan masyarakat merawat warganya yang paling rentan. Bantuan dari dermawan lokal tentu meringankan, namun peran pemerintah dari tingkat desa hingga dinas sosial krusial untuk solusi yang berkelanjutan.
Semoga uluran tangan segera datang, bukan hanya untuk memperbaiki atap dan memberi makanan, tetapi juga untuk memberikan jaminan bahwa sebatang kara seperti Kamaruddin tidak lagi harus menunggu sendirian di gubuknya. (*)

