Close Menu
Indotim NewsIndotim News
  • Berita
  • DAERAH
  • HUKRIM
  • EKOBIS
  • BIDIK LENZA
  • NASIONAL
  • PENDIDIKAN
  • ADVERTORIAL
  • SOSBUD
Facebook X (Twitter) Instagram
Facebook X (Twitter) Instagram
Minggu, April 19
Indotim NewsIndotim News
Facebook X (Twitter) Instagram
  • Berita
  • DAERAH
  • HUKRIM
  • EKOBIS
  • BIDIK LENZA
  • NASIONAL
  • PENDIDIKAN
  • ADVERTORIAL
  • SOSBUD
Indotim NewsIndotim News
  • Berita
  • DAERAH
  • HUKRIM
  • EKOBIS
  • BIDIK LENZA
  • NASIONAL
  • PENDIDIKAN
  • ADVERTORIAL
  • SOSBUD
Home»RAGAM»OPINI»Menanti Terang di Balik Aksi “Indonesia Gelap”
OPINI

Menanti Terang di Balik Aksi “Indonesia Gelap”

Indotim NewsBy Indotim NewsFebruari 18, 2025Updated:Februari 18, 2025Tidak ada komentar3 Mins Read
Facebook Twitter Email WhatsApp Telegram
Share
Facebook Twitter Email WhatsApp

Oleh: Petta Lamarupe’

Unjuk rasa mahasiswa bertajuk “Indonesia Gelap” mencerminkan kekecewaan yang mendalam terhadap pemerintah yang dianggap tak peduli dengan nasib rakyat.

Dalam gelora semangat, mereka turun ke jalan membawa obor harapan, namun seraya meneriakkan kegundahan akan ketidakadilan yang mereka rasakan di 100 hari kerja Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Sorak-sorai yang bergema di sepanjang jalan bukanlah sekadar ungkapan ketidakpuasan, melainkan seruan hati nurani yang menuntut perubahan menuju jalan terang.

Aksi bertajuk “Indonesia Gelap” dilaksanakan oleh Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) pada tanggal 17 Februari 2025 di Jakarta dan rencana puncak aksi 20 Februari 2025.

Aksi ini juga berlangsung serentak di berbagai daerah di Indonesia dengan menelorkan beberapa poin penting dari aksi tersebut.

Yakni menuntut pemerintah, termasuk mencabut Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2025 tentang efisiensi anggaran, menolak revisi UU Minerba, dan menyelesaikan masalah tunjangan dosen.

Sejalan dengan aksi unjuk rasa, juga viral di media sosial Simbol Garuda berlatar hitam digunakan para demonstran untuk menggambarkan keprihatinan mendalam atas kondisi bangsa yang dianggap jauh dari cita-cita kemakmuran dan keadilan sosial.

Aksi ini merupakan bentuk protes terhadap berbagai kebijakan pemerintah yang dianggap merugikan rakyat.

Di sisi lain, aksi mahasiswa ini, sebagai representasi suara muda, kerap kali dianggap sebagai cermin kepedulian yang tulus terhadap kondisi bangsa.

Mereka mengangkat masalah yang sering kali terabaikan, memaksa perhatian kita kepada berbagai lapisan masyarakat yang terpinggirkan.

Melalui aksi mereka, muncul pertanyaan yang harus dijawab oleh para pemegang kuasa: di manakah letak empati dan tanggung jawab terhadap kesejahteraan rakyat?

Ketika pemerintah seolah tutup mata terhadap tuntutan tersebut, aksi unjuk rasa ini menjadi simbol dari keresahan kolektif yang menggerayangi hati nurani bangsa.

Sementara janji-janji manis terdengar indah di panggung politik, realita di lapangan menunjukkan adanya kesenjangan yang semakin menganga.

Mahasiswa, dengan semangat muda mereka, mendesak agar kebijakan-kebijakan yang diambil benar-benar berpihak pada kepentingan rakyat, bukan hanya retorika kosong yang menguap di udara.

Di tengah hiruk-pikuk aksi “Indonesia Gelap”, terdapat pesan yang harus kita renungkan bersama, “Bahwa bangsa ini, dengan segala keanekaragamannya, membutuhkan pemimpin yang mampu merangkul dan mendengarkan setiap keluhan rakyatnya”.

Bahwa di balik setiap tuntutan ada harapan yang menggelora, ada impian yang mengharapkan nyata dalam tindakan nyata.

Aksi ini, meskipun ditanggapi dengan skeptis oleh sebagian pihak, adalah potret dari kekuatan demokrasi dan suara hati nurani rakyat, mahasiswa, dengan keberanian mereka, telah membuka mata kita akan pentingnya keadilan dan kesejahteraan bersama.

Semoga gema aksi “Indonesia Gelap” ini mampu menggugah kesadaran kita semua, bahwa dalam setiap langkah yang diambil oleh pemerintah, terdapat harapan yang menggelayut di hati setiap rakyat yang menanti terang di tengah kegelapan. (*)

SLIDER
Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp Email
Indotim News
  • Website

Related Posts

Ketika Wartawan TVRI ini Dikepung Puluhan Orang yang Akan Usir Keluarganya dari Rumah

April 18, 2026

ANALISIS: Apakah Instruksi Presiden itu Berlaku Soal Penegakan Hukum mafia BBM Solar Subsidi di Sulsel? (Bag.114)

April 18, 2026

ANALISIS: Menggagas Penegakan Tipikor, Potong Rantai Mafia Solar. Benarkah tak Ada Ruang Bagi Pelaku Kejahatan di Sulsel? (Bag.113)

April 16, 2026
Leave A Reply Cancel Reply

  • Berita Terkini
  • Post Popular

Ketika Wartawan TVRI ini Dikepung Puluhan Orang yang Akan Usir Keluarganya dari Rumah

April 18, 2026

ANALISIS: Apakah Instruksi Presiden itu Berlaku Soal Penegakan Hukum mafia BBM Solar Subsidi di Sulsel? (Bag.114)

April 18, 2026

Semarak Kebersamaan di Balik Tembok: Porseni HBP ke-62 Resmi Dibuka di Lapas Perempuan Sungguminasa

April 18, 2026

Menata diri dengan Iman, Warga Binaan Rutan Makassar Aktif Ikuti Pengajian

April 18, 2026

Pastor Yance Yogi dari Intan Jaya; Uskup Merauke urus umat, bukan sibuk pemekaran wilayah

Mei 29, 2022

DPC Pandawa Pattingalloang Gowa Laksanakan Rapat Persiapan Pelantikan

Agustus 15, 2022

Antara WikiLeaks dan SBY, Siapa Bohong?

Agustus 1, 2014

Ketika Wartawan TVRI ini Dikepung Puluhan Orang yang Akan Usir Keluarganya dari Rumah

April 18, 2026
Berita Terbaru
  • Ketika Wartawan TVRI ini Dikepung Puluhan Orang yang Akan Usir Keluarganya dari Rumah
  • ANALISIS: Apakah Instruksi Presiden itu Berlaku Soal Penegakan Hukum mafia BBM Solar Subsidi di Sulsel? (Bag.114)
  • Semarak Kebersamaan di Balik Tembok: Porseni HBP ke-62 Resmi Dibuka di Lapas Perempuan Sungguminasa
  • Menata diri dengan Iman, Warga Binaan Rutan Makassar Aktif Ikuti Pengajian
  • Apel Pagi Dirangkaikan Pelepasan Pejabat, Lapas Maros Beri Penghargaan atas Pengabdian dan Dedikasi
Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Indeks Berita
© 2026 INDOTIM NEWS | by WebPro.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.