MAKASSAR – Di tengah gegap gempita pesta demokrasi lokal, sosok muda penuh semangat muncul sebagai calon Ketua RT. Yusrianto Saputra, SE, pemuda asal Kelurahan Bangkala, Kota Makassar, yang sejak remaja aktif mengabdi di masjid, kini mantapkan niatnya maju dalam Pemilihan Ketua RT/RW Serentak Kota Makassar 3 Desember 2025 mendatang.
Berasal dari latar belakang sarjana Ekonomi, Yusrianto bukan figur biasa. Sejak usia muda, dia telah aktif sebagai remaja masjid dan hingga kini konsisten menjadi guru mengaji di lingkungannya.
Dengan pengalaman spiritual yang mendalam serta kepedulian sosial yang tinggi, Yusrianto mengusung tagline “DARI MASJID UNTUK MASYARAKAT,” yang mencerminkan misi mulianya: pengabdian yang berakar pada nilai-nilai agama.Pemilihan Ketua RT dan RW serentak di Makassar ini adalah momentum penting dalam demokrasi akar rumput.
Pemerintah Kota Makassar melalui Badan Pemberdayaan Masyarakat (BPM) menyelenggarakan pemilihan langsung untuk 4.965 Ketua RT dan 992 Ketua RW yang tersebar di 15 kecamatan.
Yusrianto Saputra menyatakan komitmen dengan tegas dan tulus, “Dengan mengharap ridho dan atas izin Allah SWT, saya mencalonkan diri sebagai Ketua RT 3 RW 09 Kelurahan Bangkala, Kecamatan Manggala, Kota Makassar. Insya Allah, amanah yang diberikan masyarakat akan saya jalankan penuh tanggung jawab. Mohon doa dan dukungannya.”
Pernyataan ini memperlihatkan niatnya yang tulus, bukan sekadar mengejar kekuasaan lokal, tetapi mengemban amanah sebagai pelayan masyarakat.
Dukungan kuat datang dari kalangan pemuda, khususnya Amri Wijaksono Sutoyo, Ketua ARMADA ATH-THAYYIBAH, organisasi remaja masjid di Makassar. Amri menilai kapasitas dan dedikasi Yusrianto sangat layak.
“Kami mendukung penuh Bang Yusri karena pengalaman dan kapasitasnya sebagai guru mengaji dan aktivis masjid. Kami menitipkan amanah dan harapan besar kepadanya. Kami bertarung untuk menang, tidak ada pilihan lain,” tegas Amri.
Keterlibatan Yusrianto dalam kontestasi ini mencerminkan hal yang lebih besar dari sekadar politik lokal.
Ia membawa identitas sebagai guru mengaji dan pemuda masjid ke ruang kepemimpinan, menegaskan bahwa pengabdian sosial dan kepemimpinan bisa lahir dari nilai-nilai spiritual yang kuat. (*)

