Oleh: Zulkifli Malik
Penangkapan dua kapal pengangkut solar subsidi ilegal oleh TNI AL di perairan Makassar baru-baru ini seperti tamparan keras bagi sindikat kejahatan ekonomi.
Operasi gagah ini menyita 106 kiloliter BBM yang diduga disalahgunakan, tapi benarkah ini akhir dari mafia BBM di lautan Nusantara?
Bayangkan, dini hari 22 Februari 2026, KRI Suluh Pari II-6-60 meluncur ganas, mengamankan SPOB Sania dan SPOB Sukses Rahayu 999 tepat di perairan Makassar, plus gudang Tamalanrea.
Tujuh truk tangki ikut jerat, membawa bukti nyata distribusi gelap solar subsidi tanpa izin layar.
Danlantamal VI, Laksamana Muda TNI Andi Abdul Aziz, tegas pada konferensi pers yang digelar, bahwa ini pelanggaran murni UU Pelayaran Nomor 17 Tahun 2008.
Jejak Pelanggaran yang menjerit Kapal-kapal ini telanjang bulat, tak ada SPB/SPOG, tak ada sertifikat awak layak.
Lebih parah, solar subsidi yang seharusnya untuk nelayan miskin dan usaha kecil justru disedot untuk tambang dan alat berat, langgar Permen ESDM 41/2021.
Bagiamana dengan Kerugian negara? Ratusan miliar di Sulsel saja, distorsi harga yang bunuh sektor riil Makassar. tBukan cuma laut di Makassar, Gowa, Maros, Bone, Wajo, Toraja, Palopo, Luwu dan beberapa wilayah lainnya mafia main lewat koperasi abal-abal dan SPBU nelayan.
Tangki siluman, bus dimodif, faktur pajak palsu membuat solar murah mengalir deras ke tambang nikel rakus. Dan yang bikin miris, oknum aparat dicurigai ikut pesta “uang haram solar”, korupsi energi terstruktur.
APH itu Pahlawan atau Penonton? TNI AL heroik, tapi lembaga terkait bagaimana? Sering mandul bongkar bos besar, sehingga bikin APH dicap pecundang abadi.
Juga pasca Rotasi Dirreskrimsus Polda Sulsel Belum ngaruh, praktik lama kambuh lagi. Penangkapan sporadis ini kayak obat nyamuk sementara, bukan bom bunuh akar mafia.
Ilusi Keamanan Laut Selamanya?Jangan senang dulu, bisa saja dua kapal ini tak jamin laut Makassar steril mafia BBM.
Nah,sindikat licin, pindah rute atau kapal cepat. Tanpa intelijen permanen dan gebuk oknum, solar ilegal tetap akan banjiri daerah tetangga.
Sejarah 2025 mengukir penangkapan serupa cuma tampar lalat. Serangan Balik ke APH pecundang kalau cuma nunggu laporan warga, bukan buru database pelaku proaktif! Seharusnya usut oknum penikmat solar haram itu via UU Tipikor, transparansi penyidikan wajib atau rakyat revolusi.
Ini bukan polisi tidur, tapi sistem tidur yang panjang.Resep Radikal Basmi Mafia waktunya blockchain di MyPertamina, lacak kuota subsidi real-time, tak bisa dimainkan.
Juga dirikan Satgas Anti-Mafia BBM gabung TNI AL-Polri-ESDM, dan terapkan hukuman minimal 10 tahun penjara biar kapok.
Sementara, Audit brutal SPBU dan koperasi Sulsel lalu potong rantai darat-laut seketika.
Tanpa gebrakan total APH, maka mafia solar Makassar bakal pesta terus, energi nasional goyah.
Penangkapan dua kapal yang diduga kuat milik HDH, TNI AL layak jempol, tapi APH harus bangkit dari status quo loser menuju algojo keadilan.
Subsidi energi milik rakyat miskin bukan pesta elit tambang. Saatnya berubah, atau tenggelam bersama kapal ilegal itu? (Bersambung).

