MAKASSAR– Hari Kesebelas Pesantren Ramadhan Virtual UMI mengangkat tema “Variasi Puasa dalam Al-Qur’an” dengan Narasumber Dr.H.Ahmad Hakim, M.A (Dekan Fakultas Agama Islam UMI). Hadir Dr.Nursetiawati, Ph.D (Wakil Dekan IV Fak.Teknik UMI, Ir.Rusli Roy (KTU UPT.PKD UMI), dan sejumlah dosen, dan mahasiswa UMI, dipandu Host Dr.M.Ishaq Shamad dan Dr.Nurjannah Abna.
Dr.Ahmad Hakim menjelaskan bahwa puasa yang dilakukan umat sebelum Nabi Muhammad, bervariasi. Puasa yang dimaksud, adalah menahan, misalnya menahan untuk tidak bicara (puasa bicara), seperti yang dilakukan Maryam (Ibu Nabi Isa a.s). Hal ini dilakukan karena menghindari banyaknya hinaan dan cercaan kepada Maryam yang melahirkan Nabi Isa a.s tanpa ayah.
Demikian pula salah satu suku di Mesopotamia, melaksanakan puasa dengan tidak makan daging tertentu atau puasa hanya di waktu pagi atau hanya di waktu malam atau siang dan malam berpuasa, jelasnya.
Dr.Nursetiawati menambahkan bahwa kualitas puasa, tidak dipengaruhi oleh lamanya waktu yang digunakan dalam menunaikan ibadah puasa, misalnya orang yang berpuasa di Kutub Utara, memerlukan waktu sampai 16 jam baru bisa berbuka puasa, dibanding dengan lamanya orang Indonesia berpuasa sekitar 10 jam, tetapi yang menentukan adalah keimanan dan keikhlasannya, jelasnya.
Host Dr.M. Ishaq Shamad menambahkan bahwa puasa dengan menahan semua panca indra untuk tidak beraktifitas juga sangat sulit, karena kita tetap bekerja dan keluar rumah, atau tetap di rumah dan menggunakan mata dan telinga untuk membuka media Medsos, misalnya. Di You Tube atau Facebook, sangat banyak konten-konten yang jika dibuka, tentu akan mengurangi nilai pahala puasa. Karena itu, tantangan bagi orang yang berpuasa untuk mampu menahan diri dari hal-hal yang dapat mengurangi nilai pahala puasa.
Host Dr.Nurjannah Abna juga setuju bahwa kualitas puasa bukan ditentukan oleh lamanya waktu yang digunakan menahan, tetapi kemampuan orang yang berpuasa untuk menjaga panca indranya agar tidak terjerumus kepada hal-hal yang membuat puasanya makruh.
“Disinilah dibutuhkan keimanan dan kesabaran agar bisa menunaikan ibadah puasa dengan sebaik-baiknya, agar tujuan puasa bisa tercapai, yakni laallakum tattakuun (agar memperoleh derajat taqwa”, kuncinya. (*)
