PAPUA– Minggu pagi di Kampung Masram dimulai bukan dari deru mesin atau rutinitas ladang, melainkan dari langkah-langkah kecil berbalut seragam hijau.
Di depan Gereja Kristen Injil (GKI) Imanuel Masram, beberapa prajurit Yonif TP 859/RBK sibuk menata kotak-kotak nasi, bukan sebagai tugas formal, melainkan sebagai bentuk kunjungan hati.
Serda Fachri, yang memimpin kegiatan itu, berdiri sejenak memandang jemaat yang datang seperti anak-anak yang masih ragu, ibu-ibu yang tersenyum sopan, dan para lansia dengan wajah penuh cerita. Ia tahu, makanan itu lebih dari sekadar isi perut.
“Ini cara kami menunjukkan bahwa kami ada untuk mereka,” katanya pelan, ketika dimintai keterangan oleh panitia gereja.
Kegiatan sederhana itu, Program Kasih Minggu, berlangsung dengan suasana hangat. Setelah ibadah, kotak-kotak nasi dibagikan satu per satu, diserahkan dengan tangan dan senyum.
Bagi banyak orang di Masram, momen ini adalah pengingat: bahwa perhatian bisa datang dalam bentuk yang paling sederhana ditemani sapaan, senyuman, dan rasa hormat.
Kehadiran tentara di tengah jemaat bukan langkah formal semata. Bagi warga, itu memberi rasa aman sekaligus pengakuan kemanusiaan.
“Mereka bukan hanya menjaga wilayah,” kata Bpk. Joni Bara, ketua jemaat GKI Imanuel Masram, “tetapi juga hadir untuk berbagi, mendengarkan, dan hadir bersama kami.”
Matanya berkaca-kaca saat menjelaskan bagaimana kehadiran itu mempererat ikatan antarwarga dan instansi keamanan lokal.
Seorang ibu paruh baya, yang enggan menyebutkan namanya, menggenggam nasi kotak di tangannya seperti memegang harapan kecil.
“Kadang yang kami butuhkan bukan hanya bantuan besar,” ujarnya, “tapi juga dipandang, diingat, dan diperhatikan.” Di antara tawa anak-anak yang menerima paket, adanya tentara yang duduk sebentar mendengarkan cerita warga membuat perbedaan mengubah jarak menjadi keakraban.
Program ini juga merupakan bagian dari upaya Yonif TP 859/RBK menumbuhkan rasa kemanunggalan TNI dan rakyat. Di wilayah seperti Supiori, di mana komunitas saling bergantung, sentuhan personal seperti ini memperkuat nilai toleransi, persaudaraan, dan gotong royong. Bukan hanya retorika, tetapi praktik sehari-hari yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
Sebelum meninggalkan gereja, Serda Fachri menerima pelukan hangat dari seorang nenek. “Terima kasih sudah ingat kami,” katanya sederhana.
Momen itu bukan untuk kamera atau laporan resmi; ia murni dua manusia saling mengakui keberadaan satu sama lain.
Di balik ratusan kotak nasi yang dibagikan, ada pesan yang lebih besar, perhatian kecil mampu merawat rasa percaya.
Di Masram, hubungan antara TNI dan warga tak lagi hanya soal keamanan, melainkan tentang kehadiran bersama—membangun kehidupan yang lebih aman, damai, dan saling peduli. (*)

