BULUKUMBA– Inisiatif pengamanan ketat di seluruh Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) oleh Polres Bulukumba merupakan manifestasi proaktif dari komitmen Polri dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).
Strategi ini tidak hanya mengantisipasi potensi gangguan seperti antrian panjang dan penyalahgunaan BBM, tetapi juga mencegah tindak kriminalitas di area rawan.
Dengan mendistribusikan personel ke 12 SPBU di enam kecamatan, Yakni, Ujung Bulu (5 SPBU), Gantarang (3 SPBU), serta satu SPBU masing-masing di Rilau Ale, Bulukumpa, Bonto Bahari, dan Ujung Loe.

Nah, upaya ini mencerminkan pendekatan teritorial yang komprehensif, selaras dengan prinsip kepolisian preventif berbasis masyarakat.
Dukungan publik terhadap langkah Polres Bulukumba terlihat dari respons positif masyarakat setempat, yang merasakan peningkatan rasa aman saat beraktivitas di SPBU.
Sementara, Kabag Ops Kompol Andi Akbar Munir menegaskan bahwa pengamanan ini bertujuan memberikan kehadiran Polri di tengah masyarakat, sehingga menciptakan lingkungan nyaman bagi pengguna BBM.
Hal ini sejalan dengan teori polisi komunitas (community policing), di mana interaksi langsung antara aparat dan warga memperkuat kepercayaan publik, sebagaimana dibuktikan oleh survei nasional Polri yang menunjukkan peningkatan indeks kepuasan masyarakat hingga 15% di wilayah dengan pengamanan serupa.
Pengamanan ini memastikan distribusi BBM tepat sasaran, menghindari penyimpangan seperti panic buying atau penimbunan yang sering memicu ketidakstabilan sosial ekonomi.

Dengan pengaturan arus lalu lintas, penguraian antrean, dan imbauan tertib, Polres Bulukumba tidak hanya menjaga kelancaran operasional SPBU, tetapi juga mencegah eskalasi konflik horizontal antar warga.
Pendekatan ini efektif mengurangi risiko disparitas akses BBM, yang kerap menjadi pemicu kerusuhan di daerah rawan kekurangan energi.
Dari perspektif kebijakan publik, inisiatif ini memperkuat sinergi antara Polri dan Pertamina sebagai penyalur BBM negara. Dengan memastikan BBM tepat sasaran bagi kendaraan pribadi dan usaha produktif, upaya ini mendukung stabilitas rantai pasok nasional, terutama di tengah fluktuasi harga global.
Dukungan publik semakin terlihat dari minimnya keluhan di media sosial lokal, yang justru memuji ketertiban di SPBU sebagai model pelayanan prima.
Yang sangat diharapkan dari kebijakan Polres Bulukumba ini dapat menjadi percontohan bagi wilayah lain di Sulawesi Selatan, seperti Bone, Maros, Jeneponto, Selayar DNA wilayah lainnya di Sulsel, yang memiliki distribusi SPBU serupa.
Model pengamanan teritorial ini, dengan fokus pada pencegahan dini, menawarkan replikasi sederhana: alokasi personel proporsional berdasarkan kepadatan SPBU, dikombinasikan dengan edukasi masyarakat. Keberhasilan di Bulukumba, ditandai situasi kondusif pada 27 Maret 2026, membuktikan bahwa investasi preventif lebih efisien daripada responsif pasca-gangguan.

Implikasi lebih luas terletak pada kontribusi terhadap kamtibmas regional, di mana pengamanan SPBU mencegah efek domino seperti peningkatan kriminalitas lalu lintas atau konflik sosial.
Dukungan publik yang kuat, termasuk partisipasi warga dalam mematuhi imbauan anti panic buying, memperkuat resiliensi komunal.
Data historis Polres di Sulsel menunjukkan penurunan insiden SPBU-related hingga 20% di kabupaten dengan strategi serupa, menjadikan Bulukumba sebagai benchmark empiris.
Pendekatan ini selaras dengan konsep “policing by consent” ala Robert Peel, di mana legitimasi Polri bergantung pada persetujuan masyarakat.
Dukungan publik di Kabupaten Bulukumba diekspresikan melalui keteraturan antrean dan minimnya pelanggaran memperkuat narasi bahwa polisi bukan hanya penegak hukum, melainkan fasilitator kesejahteraan.
Toh, inisiatif Polres Bulukumba menegaskan paradigma kepolisian modern yakni preventif, partisipatif, dan berorientasi masyarakat.
Dengan BBM tepat sasaran sebagai katalisator kamtibmas stabil, model ini layak dijadikan percontohan nasional, didukung data empiris dan antusiasme publik.
Diketahui, distribusi BBM Diawasi Intensif karena Lonjakan Kebutuhan dengan penguatan data Pertamina, penyaluran BBM di Bulukumba Gasoline 120,2% dari rata-rata
Solar: 93,8%. (*)

