MAKASSAR– Di tengah hiruk-pikuk peringatan Hari Sumpah Pemuda, satu pemandangan berbeda tampak di ruas Jalan A.P. Pettarani, Makassar. Seorang mahasiswa berdiri sendiri di bawah terik matahari, membentangkan spanduk dan berorasi lantang menolak rencana pemberian gelar pahlawan kepada mantan Presiden Soeharto.
Mahasiswa itu adalah Irwan, aktivis muda yang tergabung dalam Simpul Pergerakan Mahasiswa dan Pemuda (SPMP). Dengan hanya ditemani satu ban bekas di sampingnya, Irwan melancarkan aksi tunggal atau solo protest di depan kantor Telkom Indonesia, menyuarakan sikap moralnya terhadap keputusan pemerintah yang dinilainya mencederai semangat reformasi.
Dalam orasinya, Irwan menegaskan bahwa pemberian gelar pahlawan kepada Soeharto adalah bentuk penghianatan terhadap sejarah perjuangan mahasiswa dan rakyat yang menumbangkan rezim otoriter pada 1998.
> “Hari ini saya berdiri menolak gelar pahlawan untuk Soeharto. Pemberian gelar itu adalah bentuk penghianatan terhadap semangat reformasi yang diperjuangkan dengan darah dan air mata,” tegas Irwan dalam orasinya.
Ketua SPMP, Ozi Ekayama, saat dikonfirmasi membenarkan bahwa aksi tersebut dilakukan oleh salah satu pengurus organisasinya. Ia menjelaskan bahwa aksi tunggal itu merupakan simbol keteguhan mahasiswa dalam mempertahankan idealisme, meski dilakukan seorang diri.
> “Aksi Irwan adalah bentuk perlawanan simbolik. Ia ingin menunjukkan bahwa perjuangan mahasiswa tidak diukur dari jumlah massa, tetapi dari keberanian untuk bersuara demi kebenaran,” ujar Ozi.
Ozi menambahkan, SPMP menilai bahwa generasi muda harus terus mengawal nilai-nilai reformasi dan menolak segala bentuk upaya pelapukan sejarah yang berpotensi mengaburkan fakta masa lalu.
> “Sebagai pemuda dan mahasiswa, kami akan tetap berdiri pada nilai-nilai perjuangan. Sekalipun hanya satu orang yang tersisa, suara itu tidak boleh padam,” tandasnya.
Aksi tunggal Irwan pun menjadi sorotan publik di Makassar, mengingat keberaniannya tampil sendiri di tengah maraknya aksi massa pada momentum Hari Sumpah Pemuda. Aksi ini menjadi pengingat bahwa semangat kritis mahasiswa masih hidup — bahkan dalam kesunyian seorang demonstran.

