JAYAPURA – Sejak bulan April di Kabupaten Dogiyai terjadi insiden kebakaran, dikatakan kebakaran karena hingga kini belum terungkap pelaku yang sebenarnya, sekaligus belum menemukan alasan kebakaran seperti siapa pelakunya dan mengapa terjadi kebakaran.
Guna memahami secara persis atas peristiwa kebakaran di Dogiyai, semua pihak wajib memahami term dari kata dasar “bakar” dengan imbuhan di, ke, mem dan ter. Sehingga tidak saling menuduh dan memfitnah satu terhadap yang lain.
Pemerhati kemanusiaan yang juga aktif di Tim Pastoral Gereja Katolik Dekenat Kamuu-Mapia di Dogiyai, Gaamoye Egeedy mengatakan, dibakar dari kata dasar bakar tambah imbuhan awalan di menjadi dibakar, artinya melakukan tindakan pembakaran secara sengaja, dengan tahu dan mau. Demikian juga kata membakar.
“Entah dibakar maupun membakar, itu merupakan tindakan atau aksi sadar yang dilakukan oleh manusia baik seorang maupun banyak orang. Dibakar atau membakar selalu dengan tujuan dan maksud tertentu oleh pelaku,” katanya melalui selulernya, Senin, (31/5/2022).
Sedangkan, lanjut dia, terbakar artinya persistiwa atau musibah yang menghanguskan sesuatu baik rumah, hutan atau apapun tanpa disangka, tanpa disadari, bahkan tanpa tujuan atau sebab. Artinya terjadi begitu saja tanpa campur tangan manusia secara sadar, tahu dan mau.
“Terbakar searti dengan kebakaran, keduanya terjadi tanpa sepengetahuan dan kesadaran manusia. Peristiwa yang dikagetkan karena musibah kebakaran itu, di mana tidak disebabkan oleh manusia, terjadi begitu saja dan tidak sengaja karena bukan dilakukan oleh manusia,” jelasnya.
Ia menegaskan, peristiwa kebakaran di Dogiyai masuk dalam sebutan terbakar atau kebakaran, bukan dibakar atau membakar karena pelaku belum ditemukan. Sejauh pelaku belum diungkap atau ditemukan dan dilihat, lima kasih kejadian di Dogiyai, artinya peristiwa yang bersifat misterius tetap disebut sebagai terbakar atau kebakaran, terjadi tanpa sengaja dan tanpa sebab.
“Alasan dan tujuan belum tahu. Kebakaran di Dogiyai disebut terbakar dan kebakaran karena alasan tidak diketahui. Artinya, sejauh terjadi kebakaran yang tanpa tujuan, bukan oleh orang, tidak boleh saling tuduh-menuduh. Sebab, belum ditemukan untuk apa dibakar, mengapa dibakar, oleh siapa membakar,” katanya tegas.
Lanjut dia, semua terjadi dalam misteri dan ambiguitas. Kasus itu terjadi tanpa diketahui dan susah mengatakan secara pasti siapa pelaku dan alasan pembakaran. Karena misteri, dapat disebut dengan kebakaran. Istilah atau sebutan paling tepat dari peristiwa kebakaran di Dogiyai adalah musibah atau kejadian tak terduga, yang membuat semua orang bertanya-tanya dan membingungkan.
“Selanjutnya, nanti setelah pelaku secara persis diungkap barulah dapat disebut dibakar atau membakar,” ucapnya.
Walaupun demikian Kepolisian Daerah (Polda) Papua menyebutkan kebakaran itu dilakukan oleh sekelompok orang yang belum diketahui identitasnya pada Minggu (22/5/2022) malam.
Bahkan Kepala Polda Papua, Irjen Mathius D Fakhiri mengaku, pihaknya telah mengirim 1 peleton bantuan personel dari Kabupaten Nabire ke Dogiyai guna melakukan pengamanan di sana. Pada Selasa (24/5/2022) besok, Polda Papua juga akan mengirim 1 peleton pasukan Brimob dari Timika ke Dogiyai, guna melakukan langkah-langkah tegas.
“Saya sudah minta segera cari akar persoalan, kenapa bisa terjadi pembakaran selama dua hari berturut-turut. Semoga sudah ada laporan awal, tapi saya minta dalami lagi,” kata Fakhiri. ( *Abeth Amoye You)*

