Oleh: Petta Lamarupe’
Presiden Prabowo Subianto baru-baru ini menjadi sorotan publik setelah mengumbar kata “ndasmu” dalam pidatonya pada acara HUT ke-17 Partai Gerindra di Sentul International Convention Center, Bogor⁾.
Kata tersebut diucapkan sebagai tanggapan terhadap kritik yang menyebutkan kabinetnya terlalu gemuk dan besar.
Meskipun Prabowo kemudian meminta maaf atas penggunaan kata tersebut, ucapan tersebut sudah banyak dibicarakan di media sosial dan dianggap kurang pantas oleh banyak pihak.
Kata “ndasmu” dalam bahasa Jawa memiliki arti yang sedikit kasar dan biasanya digunakan untuk menyebut kepala hewan.
Penggunaan kata ini oleh seorang pemimpin tinggi seperti Presiden Prabowo menimbulkan reaksi yang beragam, dari yang tertawa hingga yang merasa malu.
Beberapa tokoh masyarakat dan pengamat politik menganggap bahwa kata-kata tersebut mencerminkan kurangnya kesopanan dan profesionalisme dalam berkomunikasi.
Perkembangan ini menunjukkan pentingnya etika dan kesopanan dalam berbicara, terutama bagi pemimpin yang dianggap sebagai teladan bagi masyarakat.
Meskipun Prabowo sudah meminta maaf, isu ini tetap menjadi topik perbincangan hangat dan menggambarkan tantangan dalam menjaga citra positif di mata publik.
Sekedar mengingatkan, kepemimpinan yang sejati bukan hanya diukur dari kemampuan untuk memimpin, tetapi juga dari kepekaan dan cinta terhadap rakyat.
Ketika seorang pemimpin dengan mudah mengumbar kata-kata yang tak layak diumbar seorang pemimpin, seperti “ndasmu,” itu mencerminkan sikap yang jauh dari rasa cinta dan empati terhadap rakyat.
Sikap seperti ini tidak hanya merusak citra kepemimpinan, tetapi juga menimbulkan ketidakpercayaan dan rasa tidak hormat dari masyarakat yang dipimpin.
Kata-kata tersebut tidak pantas diperdendangkan dari seorang pemimpin, dapat memperburuk hubungan antara pemerintah dan rakyat, serta menciptakan suasana yang tidak kondusif untuk pembangunan dan kemajuan bersama.
Perilaku seorang pemimpin yang enggan menerima kritik dan malah merespons dengan kata-kata seperti “ndasmu” menunjukkan kurangnya kesiapan untuk mendengar aspirasi rakyat.
Kepemimpinan yang baik seharusnya terbuka terhadap kritik dan masukan dari masyarakat sebagai bahan introspeksi dan perbaikan, bukan nyeleneh mengumbar kata-kata yang menyakitkan telinga rakyat. (*)

