MAKASSAR– Mahasiswa Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin yang tergabung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa Pandu Alam Lingkungan (P.A.L) menyerukan pelestarian burung rangkong dan pohon lontar sebagai flora dan fauna identitas Sulawesi Selatan .
Kegiatan ini digelar bertepatan dengan peringatan Hari Keanekaragaman Hayati 2026 dengan tema “Flora dan Fauna Identitas Sulawesi Selatan” yang disiarkan melalui INSANIA FM RADIO NETWORK.
Nusyahri Ramadhani, anggota Badan Keilmuan angkatan 2024 Program Studi Kehutanan, dan Agies, anggota Bidang Kepetualangan angkatan 2024 Program Studi Konservasi Hutan memaparkan kondisi keanekaragaman hayati lokal yang terancam oleh kerusakan habitat, eksploitasi sumber daya, dan rendahnya kesadaran publik.
Nusyahri menjelaskan bahwa burung rangkong berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan tropis melalui penyebaran biji, sehingga mendorong regenerasi alam secara alami.
“Kehilangan rangkong berarti terganggunya proses regenerasi hutan yang pada gilirannya mempengaruhi seluruh komponen ekosistem,” ujarnya.
Sementara itu, Agies menyoroti peran pohon lontar sebagai flora khas Sulawesi Selatan yang memiliki manfaat ekologis, ekonomis, dan kultural. Ia menyebutkan pemanfaatan daun, batang, dan buah lontar dalam kehidupan sehari-hari serta fungsi pohon ini sebagai penahan erosi dan penyimpan air.
“Lontar bukan hanya sumber mata pencaharian tetapi juga bagian dari warisan budaya masyarakat,” kata Agies Jumat (22/5).
Keduanya mengajak generasi muda dan masyarakat luas untuk berperan aktif melalui langkah sederhana: menjaga kebersihan lingkungan, tidak merusak habitat, menolak perburuan liar, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, serta berpartisipasi dalam penghijauan dan program konservasi.
Pesan ini dimaksudkan untuk menumbuhkan kesadaran kolektif agar upaya pelestarian berjalan berkelanjutan.
P.A.L menekankan bahwa aksi konservasi harus melibatkan edukasi dan kerja sama lintas pihak mahasiswa, komunitas lokal, pemerintah daerah, dan lembaga konservasi untuk mencegah penurunan populasi rangkong dan hilangnya habitat lontar.
Jika ancaman seperti pembukaan lahan berlebihan dan perburuan tidak ditangani, identitas hayati Sulawesi Selatan berisiko mengalami erosi.
Mahasiswa berharap pesan konservasi dapat menjangkau khalayak lebih luas dan menginspirasi tindakan nyata di tingkat komunitas.
“Merawat flora dan fauna lokal berarti menjaga identitas dan masa depan masyarakat Sulawesi Selatan,” tutup Nusyahri. (*)

