Close Menu
Indotim NewsIndotim News
  • Berita
  • DAERAH
  • HUKRIM
  • EKOBIS
  • BIDIK LENZA
  • NASIONAL
  • PENDIDIKAN
  • ADVERTORIAL
  • SOSBUD
Facebook X (Twitter) Instagram
Facebook X (Twitter) Instagram
Sabtu, Juli 25
Indotim NewsIndotim News
Facebook X (Twitter) Instagram
  • Berita
  • DAERAH
  • HUKRIM
  • EKOBIS
  • BIDIK LENZA
  • NASIONAL
  • PENDIDIKAN
  • ADVERTORIAL
  • SOSBUD
Indotim NewsIndotim News
  • Berita
  • DAERAH
  • HUKRIM
  • EKOBIS
  • BIDIK LENZA
  • NASIONAL
  • PENDIDIKAN
  • ADVERTORIAL
  • SOSBUD
Home»RAGAM»OPINI»OPINI: Problematika Samsat Makassar di Tengah Perang Sistem PDE vs ERI. Kok Bisa?
OPINI

OPINI: Problematika Samsat Makassar di Tengah Perang Sistem PDE vs ERI. Kok Bisa?

Indotim NewsBy Indotim NewsOktober 21, 2025Tidak ada komentar2 Mins Read
Facebook Twitter Email WhatsApp Telegram
Share
Facebook Twitter Email WhatsApp

 Dinamika pelayanan di Samsat Makassar, dan di Sulawesi Selatan pada umumnya, kini tengah berada dalam pusaran kebingungan sistemik.

Oleh: Mansyur Asiz

Alih-alih menjadi lokomotif pelayanan publik berbasis digital, Samsat justru terjebak dalam perang senyap antara sistem PDE (Pendapatan Daerah Elektronik) dan ERI (Electronic Registration and Identification) yang masing-masing diklaim lebih efisien.

Akibatnya, masyarakat sebagai wajib pajak justru menjadi korban kebijakan yang saling tumpang tindih, lambat, dan penuh ketidakpastian.

Sistem yang semestinya mempercepat pelayanan justru berubah menjadi penghambat. Proses administrasi yang rumit, tumpang tindih kewenangan antar lembaga, serta buruknya koordinasi antara Bapenda, Ditlantas Polri, dan Jasa Raharja menimbulkan paradoks dalam tubuh Samsat.

Layanan yang seharusnya “satu atap” kini terasa seperti rumah dengan banyak pintu yang saling terkunci. Ketidakterpaduan inilah yang kemudian menciptakan persepsi negatif publik dan memunculkan dugaan adanya ruang abu-abu dalam pelayanan yang membuka celah praktik tak terpuji.

Di sisi lain, berbagai program potongan dan insentif pajak yang digagas Pemerintah Provinsi Sulsel seolah tidak mampu menambal kerusakan sistemik yang ada.

Bukannya menarik minat masyarakat untuk taat pajak, kebijakan tersebut malah tersandera oleh lemahnya integrasi data dan ego sektoral antar instansi.

Celah ini memperlihatkan bahwa persoalan utama Samsat bukan semata-mata pada sistem teknis, melainkan pada ketidakselarasan visi dan kepemimpinan kolaboratif di antara unsur pelaksananya.

Jaringan Oposisi Indonesia (JOIN) Sulsel menilai kondisi ini sebagai bentuk “ketidaktertiban birokrasi publik”1 yang harus segera diperbaiki.

JOIN tidak menuding, tetapi mengingatkan bahwa pembiaran terhadap kekacauan layanan publik akan berimbas pada merosotnya kepercayaan masyarakat terhadap lembaga negara, termasuk institusi kepolisian yang sedang giat mendorong reformasi pelayanan berbasis transparansi dan akuntabilitas.

Kritik ini adalah bentuk kepedulian agar reformasi pelayanan publik tidak mandek hanya karena miskomunikasi antarlembaga.

Akhirnya, sudah saatnya Bapenda Sulsel, Ditlantas Polda Sulsel, dan Jasa Raharja duduk bersama secara terbuka dengan melibatkan unsur masyarakat sipil, akademisi, dan media. Dialog yang jujur dan konstruktif menjadi langkah awal mengurai simpul persoalan ini.

Sebab publik tidak butuh saling menyalahkan antarinstansi  yang dibutuhkan adalah pelayanan cepat, jelas, dan berintegritas. Samsat harus kembali ke khitahnya: hadir sebagai rumah pelayanan publik yang manunggal, bukan medan perang antar sistem.

Penulis Adalah Direktur Jaringan Oposisi Indonesia  (JOIN) Sulsel

Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp Email
Indotim News
  • Website

Related Posts

KOLOM: Dari Kolonial ke Kontemporer, Efek Stigmatisasi “Londo Ireng”

Juli 24, 2026

TAJUK: Publik Menanti Persidangan Kasus Dugaan Ijazah Jokowi: Apakah Mantan Presiden Akan Hadir Dicecar?

Juni 21, 2026

EDITORIAL: Alun‑Alun Pancur Batu, Simbol Pemborosan atau Alarm Tata Kelola?

Juni 17, 2026
Leave A Reply Cancel Reply

  • Berita Terkini
  • Post Popular

Tingkatkan Kualitas Layanan dan Pembinaan Warga Binaan, Karo Renkeu Ibnu Ismoyo Beri Arahan Strategis di Lapas Perempuan Sungguminasa

Juli 24, 2026

KOLOM: Dari Kolonial ke Kontemporer, Efek Stigmatisasi “Londo Ireng”

Juli 24, 2026

Peringatan Hari Anak Nasional 2026: Dorong Ruang Aman Nyaman dan Pemberian Remisi Bagi Warga Binaan Dibawah Umur

Juli 24, 2026

Prajurit Yonif TP 859/RBK Latih Drumband Lewat Program PINTAR, Bangun Karakter dan Kepercayaan Diri Generasi Muda di Supiori

Juli 23, 2026

Pastor Yance Yogi dari Intan Jaya; Uskup Merauke urus umat, bukan sibuk pemekaran wilayah

Mei 29, 2022

DPC Pandawa Pattingalloang Gowa Laksanakan Rapat Persiapan Pelantikan

Agustus 15, 2022

Tingkatkan Kualitas Layanan dan Pembinaan Warga Binaan, Karo Renkeu Ibnu Ismoyo Beri Arahan Strategis di Lapas Perempuan Sungguminasa

Juli 24, 2026

Antara WikiLeaks dan SBY, Siapa Bohong?

Agustus 1, 2014
Berita Terbaru
  • Tingkatkan Kualitas Layanan dan Pembinaan Warga Binaan, Karo Renkeu Ibnu Ismoyo Beri Arahan Strategis di Lapas Perempuan Sungguminasa
  • KOLOM: Dari Kolonial ke Kontemporer, Efek Stigmatisasi “Londo Ireng”
  • Peringatan Hari Anak Nasional 2026: Dorong Ruang Aman Nyaman dan Pemberian Remisi Bagi Warga Binaan Dibawah Umur
  • Prajurit Yonif TP 859/RBK Latih Drumband Lewat Program PINTAR, Bangun Karakter dan Kepercayaan Diri Generasi Muda di Supiori
  • Sidak SPBU Bone: Tampilan Publik, Solusi “Tak Nyata”
Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Indeks Berita
© 2026 INDOTIM NEWS | by WebPro.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.